BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Hutan adalah
sebuah kawasan yang ditumbuhi dengan lebat oleh pepohonan dan tumbuhan lainnya.
Hutan merupakan sistem penggunaan lahan yang tertutup dan tidak ada campur
tangan manusia, masuknya kepentingan manusia secara terbatas seperti
pengambilan hasil hutan untuk subsistem tidak mengganggu hutan dan fungsi
hutan. Tekanan penduduk dan tekanan ekonomi yang semakin besar, mengakibatkan
pengambilan hasil hutan semakin intensif (penebangan kayu). Penebangan hutan juga
dilakukan untuk kepentingan yang lain, misalnya untuk mengubah menjadi ladang
pertanian atau perkebunan. Akibat dari gangguan-gangguan hutan tersebut akan
menyebabkan terjadinya perubahan fungsi hutan. Perubahan-perubahan tersebut
lebih menekankan kearah fungsi ekonomi dengan mengabaikan fungsi sosial atau
fungsi ekologis.
Pembangunan
kehutanan diarahkan untuk memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi
kemakmuran rakyat dengan tetap menjaga kelestarian dan kelangsungan fungsi
hutan. Dalam pelaksanaan pembangunan kehutanan sangat diperlukan peran serta
masyarakat di dalam dan di luar kawasan hutan. Untuk itu keberhasilan
pembangunan kehutanan sangat ditentukan oleh keberhasilan pembangunan
masyarakat sekitar terutama untuk peningkatan kesejahteraan. Perubahan
penggunaan lahan dari hutan menjadi areal pertanian merupakan kenyataan yang
terjadi sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk. Di daerah Sumberjaya,
masyarakat telah banyak mengkonversi lahan hutan menjadi areal perkebunan kopi
sebagai mata pencahariannya. Pada tahun 1970-an sekitar 60% daerah ini masih
dalam keadaan hutan alam, tetapi pada akhir tahun 1990-an hanya sekitar 15%
hutan yang masih tertinggal
Agroforestri merupakan suatu sistem pengelolaan hutan
yang dapat mendukung pertumbuhan pohon dan kebutuhan petani setempat. Oleh
karena itu, pengembangan agroforestri ini diharapkan akan membantu pelaksanaan
pembangunan yang berkaitan langsung terutama pada penyediaan pangan dan papan.
Di dalam sistem agroforestri mempertimbangkan nilai ekologi dan ekonomi dalam
interaksi antar pohon dan komponen lainnya. Pada dasarnya, agroforestri
mempunyai dua komponen penyusun utama, yaitu tanaman kehutanan dan tanaman
pertanian yang saling berkompetisi untuk mendapatkan cahaya dan unsur hara.
Jarak tanam yang terlalu dekat akan mengakibatkan kompetisi akan air dan hara.
Agroforestri terdiri dari komponen-komponen kehutanan,
pertanian dan/atau peternakan, tetapi agroforestri sebagai suatu sistem
mencakup komponen-komponen penyusun yang jauh lebih rumit. Hal yang harus
dicatat, agroforestri merupakan suatu sistem buatan (man-made) dan merupakan
aplikasi praktis dari interaksi manusia dengan sumber daya alam di sekitarnya.
Agroforestri pada prinsipnya dikembangkan untuk memecahkan permasalahan
pemanfaatan lahan dan pengembangan pedesaan serta memanfaatkan potensi-potensi
dan peluang-peluang yang ada untuk kesejahteraan manusia dengan dukungan
kelestarian sumber daya beserta lingkungannya.
Oleh karena itu manusia selalu merupakan komponen yang terpenting dari
suatu sistem agroforestri. Dalam melakukan pengelolaan lahan, manusia melakukan
interaksi dengan komponen-komponen agroforestri lainnya.
Dalam Bahasa Indonesia,
kata Agroforestry dikenal
dengan istilah wanatani
atau agroforestri yang arti sederhananya
adalah menanam pepohonan
di lahan pertanian. Menurut De Foresta dan (Michon.1997
dalam jerry), agroforestri dapat dikelompokkan menjadi dua sistem, yaitu sistem
agroforestri sederhana dan sistem agroforestri kompleks. Sistem agroforestri
sederhana adalah suatu sistem pertanian di mana pepohonan ditanam secara
tumpang-sari dengan satu atau lebih jenis tanaman semusim. Sistem agroforestri
kompleks, adalah suatu sistem pertanian menetap yang melibatkan banyak jenis
tanaman pohon (berbasis pohon) baik sengaja ditanam maupun yang tumbuh secara
alami pada sebidang
lahan dan dikelola
petani mengikuti pola
tanam dan ekosistem menyerupai hutan
1.2.
Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum ini
yaitu mengamati dan mengidentifikasi perbedaan sistem agroforestri sederhana
dan komplek di sekitar pekanbaru
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.
Agroforestry
Agroforestry
merupakan system penggunaan lahan yang mengkombinasikan tanaman berkayu
(pepohonan, perdu, bambu, rotan dan lainnya) dengan tanaman tidak berkayu atau
dapat pula dengan rerumputan (pasture), kadang-kadang ada komponen ternak atau
hewan lainnya (lebah, ikan) sehingga terbentuk interaksi ekologis dan ekonomis
antara tanaman berkayu dengan komponen lainnya (Huxley 1999 dalam jenny).
Hampir setiap ahli mengusulkan definisi yang berbeda satu dari yang lain.
Nair
(1989) menyebutkan bahwa agroforestry adalah suatu nama kolektif untuk
sistem-sistem penggunaan lahan dan teknologi, dimana tanaman keras berkayu
(pohon-pohonan, perdu, jenis-jenis palma, bambu dan sebagainya) ditanam secara
bersamaan dengan tanaman pertanian, dan/atau hewan, dengan suatu tujuan
tertentu dalam suatu bentuk pengaturan spasial atau urutan temporal, dan
didalamya terdapat interaksi ekologi dan ekonomi diantara komponen yang
bersangkutan.
Salah
satu alternatif sistem penggunaan lahan untuk tujuan produksi dan konservasi
adalah sistem agroforestri, yaitu pengelolaan komoditas pertanian, peternakan
dan atau perikanan dengan komoditas kehutanan berupa pohon-pohonan. Agroforestri
merupakan salah satu sistem pengelolaan lahan hutan dengan tujuan untuk
mengurangi kegiatan perusakan/perambahan hutan sekaligus meningkatkan
penghasilan petani secara berkelanjutan (Hairiah et al., 2000; de Foresta et
el., 2000 dalam firman)
Tujuan
akhir program agroforestry adalah meningkatkan kesejahteraan rakyat petani,
terutama yang di sekitar hutan, yaitu dengan memprioritaskan partisipasi aktif
masyarakat dalam memperbaiki keadaan lingkungan yang rusak dan berlanjut dengan
memeliharanya. Program-program agroforestry diarahkan pada peningkatan dan
pelestarian produktivitas sumberdaya, yang akhirnya akan meningkatkan taraf
hidup masyarakat (Anton, 1992 dalam firman)
Menurut
De Foresta dan Michon (1997), agroforestry dapat dikelompokkan menjadi dua
sistem, yaitu sistem agroforestry sederhana dan sistem agroforestry kompleks.
Sistem agroforestry sederhana adalah suatu sistem pertanian dimana pepohonan
ditanam secara tumpang-sari dengan satu atau lebih jenis tanaman semusim.
Pepohonan bisa ditanam sebagai pagar mengelilingi petak lahan tanaman pangan,
secara acak dalam petak lahan, atau dengan pola lain misalnya berbaris dalam
larikan sehingga membentuk lorong/pagar. Sistem agroforestry kompleks, adalah
suatu sistem pertanian menetap yang melibatkan banyak jenis tanaman pohon
(berbasis pohon) baik sengaja ditanam maupun yang tumbuh secara alami pada
sebidang lahan dan dikelola petani mengikuti pola tanam dan ekosistem
menyerupai hutan. Di dalam sistem ini, selain terdapat beraneka jenis pohon,
juga tanaman perdu, tanaman memanjat (liana), tanaman musiman dan rerumputan
dalam jumlah banyak. Ciri utama dari sistem agroforestry kompleks ini adalah
kenampakan fisik dan dinamika di dalamnya yang mirip dengan ekosistem hutan
alam baik hutan primer maupun hutan sekunder, oleh karena itu sistem ini dapat
pula disebut sebagai Agroforestry (De Foresta, 1997 dalam bagus)
Pemilihan
dan penanaman jenis pohon dalam agroforestry dikenal istilah ”Domestikasi
Pohon”. Domestikasi pohon agroforestry adalah usaha percepatan dan evolusi yang
dipengaruhi oleh manusia yang membawa jenis-jenis tertentu ditanam secara luas
melalui kebutuhan petani atau proses arahan pasar. Domestikasi pohon meliputi
serangkaian kegiatan-kegiatan eksplorasi dan pengumpulan populasi genetik alam
atau antropogenik, evaluasi dan seleksi jenis dan provenan yang sesuai,
pengembangan teknik pengelolaan, pemanfaatan dan pemasaran hasi pohon dan
pembangunan dan penyebaran informasi teknis (Suryanto et al, 2005 dalam jenny).
Menurut
Widianto et al (2003) bahwa keberadaan pohon dalam agroforestry mempunyai dua
peranan utama. Pertama, pohon dapat mempertahankan produksi tanaman pangan dan
memberikan pengaruh positif pada lingkungan fisik, terutama dengan memperlambat
kehilangan hara dan energi, dan menahan daya perusak air dan angin. Kedua,
hasil dari pohon berperan penting dalam ekonomi rumah tangga petani. Pohon
dapat menghasilkan: (1) produk yang digunakan langsung seperti pangan, bahan
bakar, bahan bangunan; (2) input untuk pertanian seperti pakan ternak, mulsa;
serta (3) produk atau kegiatan yang mampu menyediakan lapangan kerja atau
penghasilan kepada anggota rumah tangga.
Peluang
bagi digunakannya sistem agroforestry dalam pengelolaan lahan juga disebabkan
karena (Sabarnurdin, 2002 dalam anton) :
1. Agroforestry
adalah metode biologis untuk konservasi dan pemeliharaan penutup tanah
sekaligus memberikan kesempatan menghubungkan konservasi tanah dengan
konservasi air
2. Dengan
agroforestry yang produktif dapat digunakan untuk memelihara dan meningkatkan
produksi bersamaan dengan tindakan pencegahan erosi.
3. Kegiatan
konservasi yang produktif memperbesar kemungkinan diterimanya konservasi oleh
masyarakat sebagai kemauan mereka sendiri. Digunakannya tehnik diagnostik dan
designing untuk merumuskan pola tanam secara partisipatif merupakan kelebihan
dari tehnik agroforestry.
2.1.
Pola Agroforestry
Ada beberapa
pola agroforestry di antaranya:
·
Random mixed- (campur acak)
Menanam campuran antara tanaman kehutanan dan
pertanian tahunan dengan tanaman pangan dll. Pola tanaman di dalam lahan tidak
teratur dan tajuk bertingkat (multiple storey)
Gambar 1. Pola Tanam Acak
·
Trees
along border- (pohon dibatas lahan)
Menanam pohon kehutanan
di btas lahan guna untuk menahan tanah dari erosi
Gambar 2. Pola Tanam
Dibatas Lahan
·
Alley
cropping – (pola lorong)
Tanaman tahunan ditanam dalam barisan yang berjarak
lebar (membentuk lorong) dan diantara
barisan tersebut ditanami tanaman pertanian
Gambar
3. PolaTanam Lorong
·
Alternate
rows – (baris pohon berselang seling dengan jalur tanaman pertanian)
Gambar
4. PolaTanam Selang Seling
BAB
III
HASIL
dan PEMBAHASAN
3.1.
Hasil
3.1.1. Hasil Agroforestry Sederhana
Ket
: Nama Responden : Suwito
LokasI : Arengka 1
|
No
|
JENIS TANAMAN
|
Manfaat sistem agroforestri
|
ALASAN
|
HAL YANG PERLU DI ANALISIS
|
|||
|
Kehutanan
|
Pertanian
|
Silvofiseri
|
Silvopastura
|
Agrosilvofiseri
|
|||
|
1.
|
- Akasia
- Matoa
- Saga
|
Kangkung, bayam, jagung, singkong, pisang dan
sawit
|
Manfaat dari agroforestri sederhana ini yaitu mampu
memanipulasi serangan hama, sebagai tempat berteduh dan bisa menghasilkan
nilai tambah dari hasil tanaman kehutanan misalnya : buah matoa
|
Alasan dari
Bapak Suito melakukan sistem
agroforestri sederhana ini tanpa adanya alasan teori tetapi menerapkan
kebiasaan turun menurun dan selain itu penanaman tanaman hutan disekitar
pinggiran karena tanaman kehutanan ini mampu menahan dari erosi, melindungi
dari ternak serta kecepatan angin
|
|
√
|
|
3.1.2. Hasil Agroforestry Kompleks
Ket:
Namaresponden : Museno
Lokasi : jalan Adi Sucipto
|
No
|
Jenis Tanaman
|
Manfaat sistem agroforestri
|
ALASAN
|
HAL YANG PERLU DI ANALISIS
|
|||
|
Kehutanan
|
Pertanian
|
Silvofiseri
|
Silvopastura
|
Agrosilvofiseri
|
|||
|
1.
|
Rambutan , kelapa, nangka,jambu biji, dan jeruk
kasturi
|
Rimbang , keladi, bambu, dan pisang
|
Manfaat dari agroforestri komplek sederhana (
pekarangan ) dapat dimanfaatkan yaitu hasil dan sebagainya dapat di konsumsi
dan dapat diperjual belikan seperti kelapa, rambutan dan rimbang. Meciptakan
udara yang lebih segar, pekarangan rumah dapat terlindungi oleh terik
matahari dan dapat mengurangi banjir ketika hujan lebat
|
Menurut
Bapak Museno tidak ada pemilihan tanaman khusus dilahan ini untuk ditanam
karena hanya sekedar memanfaatkan lahan kosong dan hasilnya dapat dimanfaatkan
sesuai kebutuhan sehari - hari
|
Tidak ada hal perlu dianalisis karena lahan nya
kurang memadai untuk melakukan proses sivofiseri, silvopastura dan
agrosilvofiseri. Karena lahan ini termasuk sistem agroforestri komleks
sederhana ( pekarangan )
|
||
3.2.
Pembahasan
Dari
praktikum yang kami jalani kami mendapatka
hasil bahwa pada agroforestri sederhana masyarakat sekitar tidak
mengetahui bahwa cara ia bercocok tanam termasuk agroforesrty sederhana, mereka
hanya mengikuti aturan atau kebiasan lama. Pada system agroforestri sederhana
terdapat tiga jenis tanaman kehutanan, yaitu matoa, akasia dan saga,dan ada
enam jenistanaman pertanian yaitu jagung, kangkung, singkong, sawit, pisang,
dan bayam. Tujuan petanin menanam tanaman kehutanan di sekitar kebunnya
bertujuan untuk menahan pinggiran tanah agar tanah tidak mudah longsor, sebagai
tempa tberteduh atau tempat istrahat, dan sebagai tempat memanipulasi serangan
hama.
Dalam
sytem agroforestry ada yang namanya sistem Agrisilvikultur (Agrisilvicultural
systems) merupakan sistem agroforestri yang mengkombinasikan komponen kehutanan
(atau tanaman berkayu/woody plants) dengan komponen pertanian (atau tanaman
non-kayu). Dalam hal ini jika para petani mengetahui cara atau teori
agroforestry ini mkana petani akan mendapatkan keuuntungan yang lebih, karena
ia akan bisa memanfaatkan dua hal, yaitu tanaman pertanian dan tanaman
kehutana. Yang kedua ada yang namanya sistem Silvopastura (Silvopastural
systems) merupakan Sistem yang meliputi komponen kehutanan (atau tanaman
berkayu) dengan komponen peternakan (atau binatang ternak/pasture) disebut
sebagai sistem silvopastura, Untuk yang ke tiga ada sistem Agrosilvopastura
(Agrosilvopastural systems). Agroforestry kompleks lebih banyak digunakan oleh
masyarakat karena memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan dengan
agroforestry sederhana yang mana lebih banyak tanaman kehutanan. Dikalangan
masyarakat tanaman kehutanan sangatkurang diminati karena selain ekonominya
rendah dibandingkan tanaman pertanian, tanaman kehutanan jugak sedikit memakan
ruang saat pertumbuhannya. Agroforestry kompleks banyak dimanfaatkan untuk
kebutuhan sehari hari atau untuk diperjual belikan sesama warga sekitar.
Dalam
hasil pengamatan agroforestri kompleks, terdapat banyak tanaman kehutanan, dan
ada beberapa tanaman sampingan seperti rimbang, keladi dan pisang. Agroforestri
kompleks pekarangan biasanya terdapat di pekarangan atau di pemukiman, agrforestry
kompleks berbeda dengan agroforestri sederhana, agroforestri komplek lebih
menyerupai hutan.
BAB
IV
KESIMPULAN
dan SARAN
4.1.
Kesimpulan
·
Pada agrofirestry sederhana lebih banyak
tanman pertanian di bandingkan tanaman kehutanan
·
Masyarakat lebih sering menggunakan
sistem agroforestry sederhana
·
Sistem agroforestri sederhana lebih
mudah di jumpai di bandingkan agroforestri kompkeks
4.2.
Saran
Adapun saran
dalam praktikum ini sebaiknya pada saat praktikum di dampingi oleh asdos agar
mahasiswa lebih mengerti
DAFTAR PUSTAKA
Izhaforester. 2014. Laporan Lengkap Agroforestri. http://duniaforester.blogspot.co.id/2012/11/pola-agroforestry.html
(Di akses 22 Desember 2015)
Hidayat, Rahmat. 2015. Laporan Lengkap Agroforestri Kehutanan
Untad. http://forester-untad.blogspot.co.id/2015/02/laporan-lengkap-agroforestry-kehutanan.html
(Di akses 22 Desember 2015)
cika. 2015. Laporan Agroforestri. http://cicakgenit.blogspot.co.id/2015/10/laporan-praktikum-agroforestri.html (Di akses 22
Desember 2015)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar