Kamis, 05 Mei 2016

laporan Agroforestry UR

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
            Hutan adalah sebuah kawasan yang ditumbuhi dengan lebat oleh pepohonan dan tumbuhan lainnya. Hutan merupakan sistem penggunaan lahan yang tertutup dan tidak ada campur tangan manusia, masuknya kepentingan manusia secara terbatas seperti pengambilan hasil hutan untuk subsistem tidak mengganggu hutan dan fungsi hutan. Tekanan penduduk dan tekanan ekonomi yang semakin besar, mengakibatkan pengambilan hasil hutan semakin intensif (penebangan kayu). Penebangan hutan juga dilakukan untuk kepentingan yang lain, misalnya untuk mengubah menjadi ladang pertanian atau perkebunan. Akibat dari gangguan-gangguan hutan tersebut akan menyebabkan terjadinya perubahan fungsi hutan. Perubahan-perubahan tersebut lebih menekankan kearah fungsi ekonomi dengan mengabaikan fungsi sosial atau fungsi ekologis.
            Pembangunan kehutanan diarahkan untuk memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat dengan tetap menjaga kelestarian dan kelangsungan fungsi hutan. Dalam pelaksanaan pembangunan kehutanan sangat diperlukan peran serta masyarakat di dalam dan di luar kawasan hutan. Untuk itu keberhasilan pembangunan kehutanan sangat ditentukan oleh keberhasilan pembangunan masyarakat sekitar terutama untuk peningkatan kesejahteraan. Perubahan penggunaan lahan dari hutan menjadi areal pertanian merupakan kenyataan yang terjadi sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk. Di daerah Sumberjaya, masyarakat telah banyak mengkonversi lahan hutan menjadi areal perkebunan kopi sebagai mata pencahariannya. Pada tahun 1970-an sekitar 60% daerah ini masih dalam keadaan hutan alam, tetapi pada akhir tahun 1990-an hanya sekitar 15% hutan yang masih tertinggal
            Agroforestri merupakan suatu sistem pengelolaan hutan yang dapat mendukung pertumbuhan pohon dan kebutuhan petani setempat. Oleh karena itu, pengembangan agroforestri ini diharapkan akan membantu pelaksanaan pembangunan yang berkaitan langsung terutama pada penyediaan pangan dan papan. Di dalam sistem agroforestri mempertimbangkan nilai ekologi dan ekonomi dalam interaksi antar pohon dan komponen lainnya. Pada dasarnya, agroforestri mempunyai dua komponen penyusun utama, yaitu tanaman kehutanan dan tanaman pertanian yang saling berkompetisi untuk mendapatkan cahaya dan unsur hara. Jarak tanam yang terlalu dekat akan mengakibatkan kompetisi akan air dan hara.
            Agroforestri terdiri dari komponen-komponen kehutanan, pertanian dan/atau peternakan, tetapi agroforestri sebagai suatu sistem mencakup komponen-komponen penyusun yang jauh lebih rumit. Hal yang harus dicatat, agroforestri merupakan suatu sistem buatan (man-made) dan merupakan aplikasi praktis dari interaksi manusia dengan sumber daya alam di sekitarnya. Agroforestri pada prinsipnya dikembangkan untuk memecahkan permasalahan pemanfaatan lahan dan pengembangan pedesaan serta memanfaatkan potensi-potensi dan peluang-peluang yang ada untuk kesejahteraan manusia dengan dukungan kelestarian sumber daya beserta lingkungannya.  Oleh karena itu manusia selalu merupakan komponen yang terpenting dari suatu sistem agroforestri. Dalam melakukan pengelolaan lahan, manusia melakukan interaksi dengan komponen-komponen agroforestri lainnya.
            Dalam   Bahasa   Indonesia,   kata   Agroforestry   dikenal   dengan   istilah   wanatani   atau agroforestri  yang  arti  sederhananya  adalah  menanam  pepohonan  di  lahan  pertanian. Menurut De Foresta dan (Michon.1997 dalam jerry), agroforestri dapat dikelompokkan menjadi dua sistem, yaitu sistem agroforestri sederhana dan sistem agroforestri kompleks. Sistem agroforestri sederhana adalah suatu sistem pertanian di mana pepohonan ditanam secara tumpang-sari dengan satu atau lebih jenis tanaman semusim. Sistem agroforestri kompleks, adalah suatu sistem pertanian menetap yang melibatkan banyak jenis tanaman pohon (berbasis pohon) baik sengaja ditanam maupun yang tumbuh secara alami  pada  sebidang  lahan  dan  dikelola  petani  mengikuti  pola  tanam  dan  ekosistem menyerupai hutan
1.2. Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum ini yaitu mengamati dan mengidentifikasi perbedaan sistem agroforestri sederhana dan komplek di sekitar pekanbaru


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Agroforestry
Agroforestry merupakan system penggunaan lahan yang mengkombinasikan tanaman berkayu (pepohonan, perdu, bambu, rotan dan lainnya) dengan tanaman tidak berkayu atau dapat pula dengan rerumputan (pasture), kadang-kadang ada komponen ternak atau hewan lainnya (lebah, ikan) sehingga terbentuk interaksi ekologis dan ekonomis antara tanaman berkayu dengan komponen lainnya (Huxley 1999 dalam jenny). Hampir setiap ahli mengusulkan definisi yang berbeda satu dari yang lain.
Nair (1989) menyebutkan bahwa agroforestry adalah suatu nama kolektif untuk sistem-sistem penggunaan lahan dan teknologi, dimana tanaman keras berkayu (pohon-pohonan, perdu, jenis-jenis palma, bambu dan sebagainya) ditanam secara bersamaan dengan tanaman pertanian, dan/atau hewan, dengan suatu tujuan tertentu dalam suatu bentuk pengaturan spasial atau urutan temporal, dan didalamya terdapat interaksi ekologi dan ekonomi diantara komponen yang bersangkutan.
Salah satu alternatif sistem penggunaan lahan untuk tujuan produksi dan konservasi adalah sistem agroforestri, yaitu pengelolaan komoditas pertanian, peternakan dan atau perikanan dengan komoditas kehutanan berupa pohon-pohonan. Agroforestri merupakan salah satu sistem pengelolaan lahan hutan dengan tujuan untuk mengurangi kegiatan perusakan/perambahan hutan sekaligus meningkatkan penghasilan petani secara berkelanjutan (Hairiah et al., 2000; de Foresta et el., 2000 dalam firman)
Tujuan akhir program agroforestry adalah meningkatkan kesejahteraan rakyat petani, terutama yang di sekitar hutan, yaitu dengan memprioritaskan partisipasi aktif masyarakat dalam memperbaiki keadaan lingkungan yang rusak dan berlanjut dengan memeliharanya. Program-program agroforestry diarahkan pada peningkatan dan pelestarian produktivitas sumberdaya, yang akhirnya akan meningkatkan taraf hidup masyarakat (Anton, 1992 dalam firman)
Menurut De Foresta dan Michon (1997), agroforestry dapat dikelompokkan menjadi dua sistem, yaitu sistem agroforestry sederhana dan sistem agroforestry kompleks. Sistem agroforestry sederhana adalah suatu sistem pertanian dimana pepohonan ditanam secara tumpang-sari dengan satu atau lebih jenis tanaman semusim. Pepohonan bisa ditanam sebagai pagar mengelilingi petak lahan tanaman pangan, secara acak dalam petak lahan, atau dengan pola lain misalnya berbaris dalam larikan sehingga membentuk lorong/pagar. Sistem agroforestry kompleks, adalah suatu sistem pertanian menetap yang melibatkan banyak jenis tanaman pohon (berbasis pohon) baik sengaja ditanam maupun yang tumbuh secara alami pada sebidang lahan dan dikelola petani mengikuti pola tanam dan ekosistem menyerupai hutan. Di dalam sistem ini, selain terdapat beraneka jenis pohon, juga tanaman perdu, tanaman memanjat (liana), tanaman musiman dan rerumputan dalam jumlah banyak. Ciri utama dari sistem agroforestry kompleks ini adalah kenampakan fisik dan dinamika di dalamnya yang mirip dengan ekosistem hutan alam baik hutan primer maupun hutan sekunder, oleh karena itu sistem ini dapat pula disebut sebagai Agroforestry (De Foresta, 1997 dalam bagus)
Pemilihan dan penanaman jenis pohon dalam agroforestry dikenal istilah ”Domestikasi Pohon”. Domestikasi pohon agroforestry adalah usaha percepatan dan evolusi yang dipengaruhi oleh manusia yang membawa jenis-jenis tertentu ditanam secara luas melalui kebutuhan petani atau proses arahan pasar. Domestikasi pohon meliputi serangkaian kegiatan-kegiatan eksplorasi dan pengumpulan populasi genetik alam atau antropogenik, evaluasi dan seleksi jenis dan provenan yang sesuai, pengembangan teknik pengelolaan, pemanfaatan dan pemasaran hasi pohon dan pembangunan dan penyebaran informasi teknis (Suryanto et al, 2005 dalam jenny).
Menurut Widianto et al (2003) bahwa keberadaan pohon dalam agroforestry mempunyai dua peranan utama. Pertama, pohon dapat mempertahankan produksi tanaman pangan dan memberikan pengaruh positif pada lingkungan fisik, terutama dengan memperlambat kehilangan hara dan energi, dan menahan daya perusak air dan angin. Kedua, hasil dari pohon berperan penting dalam ekonomi rumah tangga petani. Pohon dapat menghasilkan: (1) produk yang digunakan langsung seperti pangan, bahan bakar, bahan bangunan; (2) input untuk pertanian seperti pakan ternak, mulsa; serta (3) produk atau kegiatan yang mampu menyediakan lapangan kerja atau penghasilan kepada anggota rumah tangga.
Peluang bagi digunakannya sistem agroforestry dalam pengelolaan lahan juga disebabkan karena (Sabarnurdin, 2002 dalam anton) :
1.      Agroforestry adalah metode biologis untuk konservasi dan pemeliharaan penutup tanah sekaligus memberikan kesempatan menghubungkan konservasi tanah dengan konservasi air
2.      Dengan agroforestry yang produktif dapat digunakan untuk memelihara dan meningkatkan produksi bersamaan dengan tindakan pencegahan erosi.
3.      Kegiatan konservasi yang produktif memperbesar kemungkinan diterimanya konservasi oleh masyarakat sebagai kemauan mereka sendiri. Digunakannya tehnik diagnostik dan designing untuk merumuskan pola tanam secara partisipatif merupakan kelebihan dari tehnik agroforestry.
2.1. Pola Agroforestry
            Ada beberapa pola agroforestry di antaranya:
·         Random mixed- (campur acak)
 Menanam campuran antara tanaman kehutanan dan pertanian tahunan dengan tanaman pangan dll. Pola tanaman di dalam lahan tidak teratur dan tajuk bertingkat (multiple storey)
Gambar 1. Pola Tanam Acak




·         Trees along border- (pohon dibatas lahan)
Menanam pohon kehutanan di btas lahan guna untuk menahan tanah dari erosi
Gambar 2. Pola Tanam Dibatas Lahan
·         Alley cropping – (pola lorong)
Tanaman tahunan ditanam dalam barisan yang berjarak lebar (membentuk lorong)  dan diantara barisan tersebut  ditanami  tanaman pertanian

Gambar 3. PolaTanam Lorong







·         Alternate rows – (baris pohon berselang seling dengan jalur tanaman pertanian)

Gambar 4. PolaTanam Selang Seling



















BAB III
HASIL dan PEMBAHASAN
3.1. Hasil
            3.1.1. Hasil Agroforestry Sederhana
Ket : Nama Responden : Suwito
          LokasI : Arengka 1
No
JENIS TANAMAN
Manfaat sistem agroforestri
ALASAN
HAL YANG PERLU DI ANALISIS
Kehutanan
Pertanian
Silvofiseri
Silvopastura
Agrosilvofiseri
1.
- Akasia
- Matoa
- Saga
Kangkung, bayam, jagung, singkong, pisang dan sawit
Manfaat dari agroforestri sederhana ini yaitu mampu memanipulasi serangan hama, sebagai tempat berteduh dan bisa menghasilkan nilai tambah dari hasil tanaman kehutanan misalnya : buah matoa
Alasan dari Bapak Suito melakukan   sistem agroforestri sederhana ini tanpa adanya alasan teori tetapi menerapkan kebiasaan turun menurun dan selain itu penanaman tanaman hutan disekitar pinggiran karena tanaman kehutanan ini mampu menahan dari erosi, melindungi dari ternak serta kecepatan angin














3.1.2. Hasil Agroforestry Kompleks
Ket: Namaresponden : Museno
         Lokasi : jalan Adi Sucipto
No
Jenis Tanaman
Manfaat sistem agroforestri
ALASAN
HAL YANG PERLU DI ANALISIS
Kehutanan
Pertanian
Silvofiseri
Silvopastura
Agrosilvofiseri
1.
Rambutan , kelapa, nangka,jambu biji, dan jeruk kasturi
Rimbang , keladi, bambu, dan pisang
Manfaat dari agroforestri komplek sederhana ( pekarangan ) dapat dimanfaatkan yaitu hasil dan sebagainya dapat di konsumsi dan dapat diperjual belikan seperti kelapa, rambutan dan rimbang. Meciptakan udara yang lebih segar, pekarangan rumah dapat terlindungi oleh terik matahari dan dapat mengurangi banjir ketika hujan lebat
Menurut Bapak Museno tidak ada pemilihan tanaman khusus dilahan ini untuk ditanam karena hanya sekedar memanfaatkan lahan kosong dan hasilnya dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan sehari - hari
Tidak ada hal perlu dianalisis karena lahan nya kurang memadai untuk melakukan proses sivofiseri, silvopastura dan agrosilvofiseri. Karena lahan ini termasuk sistem agroforestri komleks sederhana ( pekarangan )


















3.2. Pembahasan
Dari praktikum yang kami jalani kami mendapatka  hasil bahwa pada agroforestri sederhana masyarakat sekitar tidak mengetahui bahwa cara ia bercocok tanam termasuk agroforesrty sederhana, mereka hanya mengikuti aturan atau kebiasan lama. Pada system agroforestri sederhana terdapat tiga jenis tanaman kehutanan, yaitu matoa, akasia dan saga,dan ada enam jenistanaman pertanian yaitu jagung, kangkung, singkong, sawit, pisang, dan bayam. Tujuan petanin menanam tanaman kehutanan di sekitar kebunnya bertujuan untuk menahan pinggiran tanah agar tanah tidak mudah longsor, sebagai tempa tberteduh atau tempat istrahat, dan sebagai tempat memanipulasi serangan hama.
Dalam sytem agroforestry ada yang namanya sistem Agrisilvikultur (Agrisilvicultural systems) merupakan sistem agroforestri yang mengkombinasikan komponen kehutanan (atau tanaman berkayu/woody plants) dengan komponen pertanian (atau tanaman non-kayu). Dalam hal ini jika para petani mengetahui cara atau teori agroforestry ini mkana petani akan mendapatkan keuuntungan yang lebih, karena ia akan bisa memanfaatkan dua hal, yaitu tanaman pertanian dan tanaman kehutana. Yang kedua ada yang namanya sistem Silvopastura (Silvopastural systems) merupakan Sistem yang meliputi komponen kehutanan (atau tanaman berkayu) dengan komponen peternakan (atau binatang ternak/pasture) disebut sebagai sistem silvopastura, Untuk yang ke tiga ada sistem Agrosilvopastura (Agrosilvopastural systems). Agroforestry kompleks lebih banyak digunakan oleh masyarakat karena memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan dengan agroforestry sederhana yang mana lebih banyak tanaman kehutanan. Dikalangan masyarakat tanaman kehutanan sangatkurang diminati karena selain ekonominya rendah dibandingkan tanaman pertanian, tanaman kehutanan jugak sedikit memakan ruang saat pertumbuhannya. Agroforestry kompleks banyak dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari hari atau untuk diperjual belikan sesama warga sekitar.
Dalam hasil pengamatan agroforestri kompleks, terdapat banyak tanaman kehutanan, dan ada beberapa tanaman sampingan seperti rimbang, keladi dan pisang. Agroforestri kompleks pekarangan biasanya terdapat di pekarangan atau di pemukiman, agrforestry kompleks berbeda dengan agroforestri sederhana, agroforestri komplek lebih menyerupai hutan.







BAB IV
KESIMPULAN dan SARAN
4.1. Kesimpulan
·         Pada agrofirestry sederhana lebih banyak tanman pertanian di bandingkan tanaman kehutanan
·         Masyarakat lebih sering menggunakan sistem agroforestry sederhana
·         Sistem agroforestri sederhana lebih mudah di jumpai di bandingkan agroforestri kompkeks
4.2. Saran
            Adapun saran dalam praktikum ini sebaiknya pada saat praktikum di dampingi oleh asdos agar mahasiswa lebih mengerti





















DAFTAR PUSTAKA

Izhaforester. 2014. Laporan Lengkap Agroforestri. http://duniaforester.blogspot.co.id/2012/11/pola-agroforestry.html (Di akses 22 Desember 2015)
Hidayat, Rahmat. 2015. Laporan Lengkap Agroforestri Kehutanan Untad. http://forester-untad.blogspot.co.id/2015/02/laporan-lengkap-agroforestry-kehutanan.html (Di akses 22 Desember 2015)
cika. 2015. Laporan Agroforestri. http://cicakgenit.blogspot.co.id/2015/10/laporan-praktikum-agroforestri.html (Di akses 22 Desember 2015)