Minggu, 27 April 2014

PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS)



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Air adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh makhluk hidup di bumi. Secara umum banyaknya air yang ada di planet ini adalah sama walaupun manusia, binatang dan tumbuhan banyak menggunakan air untuk kebutuhan hidupnya. Jumlah air bersih sepertinya tidak terbatas, namun sebenarnya air mengalami siklus hidrologi di mana air yang kotor dan bercampur dengan banyak zat dibersihkan kembali melalui proses alam.
Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah suatu wilayah yang dibatasi oleh   batas-batas topografi secara alami sedemikian rupa sehingga setiap air hujan yang jatuh dalam DAS tersebut akan mengalir melalui titik tertentu (Dalam Bahasa Inggris pengertian DAS sering diidentikan dengan watershed, catchment area atau river basin.titik pengukuran di sungai) dalam DAS tersebut. Keberadaan Daerah Aliran Sungai (DAS) secara yuridis formal tertuangdalam Peraturan Pemerintah No. 33 Tahun 1970 tentang Perencanaan Hutan. Didalam peraturan pemerintah ini DAS dibatasi sebagai suatu daerah tertentu yang bentuk dan sifat alamnya sedemikian rupa sehingga merupakan suatu kesatuandengan sungai dan anak sungainya yang melalui daerah tersebut dalam fungsiuntuk menampung air yang berasal dari curah hujan dan sumber air lainnya, penyimpanannya serta pengalirannya dihimpun dan ditata berdasarkan hukumalam sekelilingnya demi keseimbangan daerah tersebut. Faktanya hingga saat ini,kerusakan DAS di berbagai daerah di Indonesia mengalami kerusakan misalnya diDKI Jakarta.
Pengertian DAS tersebut menggambarkan bahwa DAS adalah suatu wilayah yang mengalirkan air yang jatuh di atasnya beserta sedimen dan bahan terlarut melalui titik yang sama  sepanjang suatu aliran atau sungai. Dengan demikian DAS atau watershed dapat terbagi menjadi beberapa sub DAS dan sub-sub DAS, sehingga luas DAS pun akan bervariasi dari beberapa puluh meter persegi sampai ratusan ribu hektar tergantung titik pengukuran ditempatkan.
Upaya manusia dalam mengendalikan hubungan timbal balik antara sumber daya alam dengan manusia di dalam DAS dan segala aktifitasnya, dengan tujuan membina kelestarian dan keserasian ekosistem serta meningkatkan kemanfaatan sumber daya alam bagi manusia secara berkelanjutan. (Kepmenhut 52/Kpts-II/2001).
Pengelolaan DAS melibatkan multi-sektor, multi-disiplin ilmu, lintas wilayah administrasi, terjadi interaksi hulu hilir, sehingga harus terpadu. Pendekatan menyeluruh pengelolaan DAS secara terpadu menuntut suatu manajemen terbuka yang menjamin keberlangsungan proses koordinasi antara lembaga terkait. Pendekatan terpadu juga memandang pentingnya peranan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan DAS, mulai dari perencanaan, perumusan kebijakan, pelaksanaan dan pemungutan manfaat. Dalam upaya menciptakan pendekatan pengelolaan DAS secara terpadu,diperlukan perencanaan secara terpadu, menyeluruh, berkelanjutan dan berwawasan lingkungan dengan mempertimbangkan DAS sebagai suatu unit pengelolaan. Dengan demikian bila ada bencana, apakah itu banjir maupunkekeringan, penanggulangannya dapat dilakukan secara menyeluruh yangmeliputi DAS mulai dari daerah hulu sampai hilir. Oleh karena itu perlu adanya pengelolaan DAS yang baik untuk mengatasi masalah kerusakan DAS di Jakartayang saat ini mengalami krisis air secara besar-besaran, seperti yang tertuangdalam artikel yang berjudul “1,5 Meter Kubik Air Terbuang Percuma”

1.2  Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah:
1.      Apa yang di maksud dengan daerah aliran sungai ?
2.      Dampak kerusakan daerah aliran sungai ?
3.      Strategi pengelolaan daerah alira sungai ?




1.3  Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini antara lain:
1.      Mengetahui apa itu daerah aliran sungai
2.      Mengetahui apa dampak kerusakan daerah aliran sungai
3.      Mengetahui strategi pengelolaan daerah aliran sungai


























BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Daerah Aliran Sungai

            DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) didefinisikan sebagai suatu daerah yang dibatasi oleh topografi alami, dimana semua air hujan yang jatuh didalamnya akan mengalir melalui suatu sungai dan keluar melalui suatu outlet pada sungai tsb, atau merupakan satuan hidrologi yang menggambarkan dan menggunakan satuan fisik-biologi dan satuan kegiatan sosial ekonomi untuk perencanaan dan pengelolaan sumber daya alam. Pada daerah aliran sungai terdapat berbagai macam penggunaan lahan, misalnya hutan, lahan pertanian, pedesaan dan jalan. Dengan demikian DAS mempunyai berbagai fungsi sehingga perlu di kelola. Pengelolaan daerah alitran sungai bisa di artikan sebagai suatu kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat, petani dan pemerintah untuk memperbaiki keadaan lahan dan ketersediaan air secara terintegrasi di dalam suatu DAS. Dari namanya, “DAS” menggambarkan bahwa “sungai” atau “air” merupakan factor yang sangat penting dalam pengelolaan DAS karena air menunjang kehidupan berbagai mahluk hidup di dalamnya.
Batas DAS adalah punggung perbukitan yang membagi satu DAS dengan DAS lainnya. Karena air mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah sepanjang lereng maka garis batas sebuah DAS adalah punggung bukit sekeliling sebuah sungai. Garis batas DAS tersebut merupakan garis khayal yang tidak bisa dilihat, tetapi dapat digambarkan pada peta. Batas DAS kebanyakan tidak sama dengan batas wilayah administrasi. Akibatnya sebuah DAS bisa berada pada lebih dari satu wilayah administrasi. Ada DAS yang meliputi wilayah beberapa negara (misalnya DAS Mekong), beberapa wilayah kabupaten (misalnya DAS Brantas), atau hanya pada sebagian dari suatu kabupaten. Tidak ada ukuran baku (definitif) suatu DAS. Ukurannya mungkin bervariasi dari beberapa hektar sampai ribuan hektar. DAS Mikro atau tampungan mikro (micro catchment) adalah suatu cekungan pada bentang lahan yang airnya mengalir pada suatu parit. Parit tersebut kemungkinan mempunyai aliran selama dan sesaat sesudah hujan turun (intermitten flow) atau ada pula yang aliran airnya sepanjang tahun (perennial flow). Sebidang lahan dapat dianggap sebagai DAS jika ada suatu titik penyalur aliran air keluar dari DAS tersebut.
Sebuah DAS yang menjadi bagian dari DAS yang lebih besar dinamakan sub DAS; merupakan daerah tangkapan air dari anak sungai. DAS dapat dibagi ke dalam tiga komponen yaitu: bagian hulu, tengah dan hilir. Ekosistem bagian hulu merupakan daerah tangkapan air utama dan pengatur aliran. Ekosistem tengah sebagai daerah distributor dan pengatur air, sedangkan ekosistem hilir merupakan pemakai air. Hubungan antara ekosistem-ekosistem ini menjadikan DAS sebagai satu  kesatuan hidrologis. Di dalam DAS terintegrasi berbagai faktor yang dapat mengarah kepada kelestarian atau degradasi tergantung bagaimana suatu DAS dikelola.
Di pegunungan, di dataran tinggi dan dataran rendah sampai di pantai dijumpai iklim, geologi, hidrologi, tanah dan vegetasi yang saling berinteraksi membangun ekosistem. Setiap ekosistem di dalam DAS memiliki komponen hidup dan tak-hidup yang saling berinteraksi. Memahami sebuah DAS berarti belajar tentang segala proses-proses alami yang terjadi dalam batas sebuah DAS.
Sebuah DAS yang sehat dapat menyediakan:
·         Unsur hara bagi tumbuh-tumbuhan
·         Sumber makan bagi manusiadan hewan
·         Air minumyang sehat bagi manusia dan mahluk lainnya
·         Tempat berbagai aktivitas manusia dan hewan

Sasaran wilayah pengelolaan DAS adalah wilayah DAS yang utuh sebagai satu kesatuan ekosistem yang membentang dari hulu hingga hilir. Penentuan sasaran wilayah DAS secara utuh ini dimaksudkan agar upaya pengelolaan sumberdaya alam dapat dilakukan secara menyeluruh dan terpadu berdasarkan satu kesatuan perencanaan yang telah mempertimbangkan keterkaitan antar komponen-komponen penyusun ekosistem DAS (biogeofisik dan sosekbud) termasuk pengaturan kelembagaan dan kegiatan monitoring dan evaluasi. Kegiatan yang disebutkan terakhir berfungsi sebagai instrumen pengelolaan yang akan menentukan apakah kegiatan yang dilakukan telah/tidak mencapai sasaran.
Ruang lingkup pengelolaan DAS secara umum meliputi perencanaan, pengorganisasian, implementasi/pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi terhadap upaya – upaya pokok berikut:
·         Pengelolaan ruang melalui usaha pengaturan penggunaan lahan (landuse) dan konservasi tanah dalam arti yang luas.
·         Pengelolaan sumberdaya air melalui konservasi, pengembangan, penggunaan dan pengendalian daya rusak air
·         Pengelolaan vegetasi yang meliputi pengelolaan hutan dan jenis vegetasi terestria l lainnya yang memiliki fungsi produksi dan perlindungan terhadap tanah dan air.
·         Pembinaan kesadaran dan kemampuan manusia termasuk pengembangan kapasitas kelembagaan dalam pemanfaatan sumberdaya alam secara bijaksana, sehingga ikut berperan dalam upaya pengelolaan DAS.
2.2 Dampak kerusakan Daerah Aliran Sungai
            Daerah Aliran Sungai di Indonesia semakin mengalami kerusakan lingkungan dari tahun ke tahun. Kerusakan lingkungan pada Daerah Aliran Sungai (DAS) meliputi kerusakan pada aspek biofisik ataupun kualitas air. Indonesia memiliki sedikitnya 5.590 sungai utama dan 65.017 anak sungai. Dari 5,5 ribu sungai utama panjang totalnya mencapai 94.573 km dengan luas Daerah Aliran Sungai (DAS) mencapai 1.512.466 km2. Selain mempunyai fungsi hidrologis, sungai juga mempunyai peran dalam menjaga keanekaragaman hayati, nilai ekonomi, budaya, transportasi, pariwisata dan lainnya. Saat ini sebagian Daerah Aliran Sungai di Indonesia mengalami kerusakan sebagai akibat dari perubahan tata guna lahan, pertambahan jumlah penduduk serta kurangnya kesadaran masyarakat terhadap pelestarian lingkungan DAS. Gejala Kerusakan lingkungan Daerah Aliran Sungai (DAS) dapat dilihat dari penyusutan luas hutan dan kerusakan lahan terutama kawasan lindung di sekitar Daerah Aliran Sungai. Oleh karena itu, kita harus mulai mengelola DAS kita yang dimulai dengan langkah yang sederhana yakni tidak membuang sampah sembarangan, melainkan membuang sampah pada tempatnya.
            Dampak Kerusakan DAS. Kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) yang terjadi mengakibatkan kondisi kuantitas (debit) air sungai menjadi fluktuatif antara musim penghujan dan kemarau. Selain itu juga penurunan cadangan air serta tingginya laju sendimentasi dan erosi. Dampak yang dirasakan kemudian adalah terjadinya banjir di musim penghujan dan kekeringan di musim kemarau.        Kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) pun mengakibatkan menurunnya kualitas air sungai yang mengalami pencemaran yang diakibatkan oleh erosi dari lahan kritis, limbah rumah tangga, limbah industri, limbah pertanian (perkebunan) dan limbah pertambangan. Pencemaran air sungai di Indonesia juga telah menjadi masalah tersendiri yang sangat serius      .                                                                                   Keberadaan lahan permukiman di Daerah Aliran Sungai (DAS) mengakibatkan berbagai macam masalah, mulai terjadinya banjir, berkurangnya ketersediaan air yang diakibatan semakin sempitnya lebar sungai hingga terjadinya pencemaraan air yang mengakibatkan penurunan kualitas air sungai, dimana sebagian besar air sungai di gunakan untuk menopang kehidupan masyarakat sekitar Daerah Aliran Sungai. Penurunan kualitas air akan menurunkan dayaguna, hasil guna, produktivitas, daya dukung dan daya tampung dari sumberdaya yang pada akhirnya akan menurunkan kekayaan sumberdaya air. Untuk menjaga kualitas air agar tetap pada kondisi alamiahnya, perlu dilakukan pengelolaan dan pengendalian pencemaran air secara bijaksana.                                              Pencemaran sungai dari adanya permukiman dapat berasal dari:                               1. Buangan air rumah tangga                                                                                     2. Padatan berupa sampah yang buang di sungai                                                       3. Air cucian kamar mandi                                                                                          4. Buangan tinja
Erosi di daerah tropika basah dengan berbagai fenomena yang bertalian  erat dengannya seperti penurunan produktivitas tanah, sedimentasi, banjir, kekeringan, termasuk jenis kerusakan DAS yang memerlukan penanganan segera dengan menggunakan teknologi yang telah dikuasai maupun teknologi baru, agar degradasi lingkungan tidak berlanjut mencapai tingkat yang gawat. Dampak negatif erosi terjadi pada dua tempat yaitu pada tanah  tempat erosi terjadi, dan pada tempat sedimen diendapkan. Banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau adalah indikator utama kerusakan DAS yang sangat jelas. Pada dasarnya banjir terjadi karena sebagian besar dari hujan yang jatuh ke bumi tidak masuk kedalam tanah mengisi akuifer, tetapi mengalir di atas permukaan yang pada gilirannya masuk ke sungai dan mengalir sebagai banjir ke bagian hilir. Hal ini terjadi karena kapasitas infiltrasi tanah sudah menurun akibat rusaknya DAS.                       Faktor kerusakan DAS yang mengakibatkan menurunnya infentrasi adalah:
·         Hilang / rusaknya penutupan vegetasi permanen / hutan di bagian huilu                  
·         Pengunaan lahan yang tidak sesuai dengan kemampuannya             
·         Penerapan teknologi pengelolaan lahan / pengelolaan DAS yang tidak memenuhi syarat yang diperlukan
Penurunan infiltrasi akibat kerusakan DAS mengakibatkan meningkatnya aliran permukaan (run off) dan menurunnya pengisian air bawah tanah (groundwateri) mengakibatkan meningkatnya debit aliran sungai pada musim hujan secara drastis dan menurunnya debit aliran pada musim kemarau. Pada keadaan kerusakan yang ekstrim akan terjadi banjir besar di musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau. Hal ini mengindikasikan bahwa terjadi kehilanghan air dalam jumlah besar di musim hujan yaitu mengalirnya air ke laut dan hilangnya mata air di kaki bukit akibat menurunnya permukaan air bawah tanah. Dengan perkataan lain, pengelolaan DAS yang tidak memadai akan mengakibatkan rusaknya sumberdaya air.
2.3 Strategi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai
            Permasalahan pokok yang mungkin dijumpai di dalam DAS adalah erosi dan degradasi lahan, kekeringan dan banjir, penurunan kualitas air sungai, dan pendangkalan sungai, danau atau waduk. Pemilihan teknologi untuk pengelolaan DAS tergantung pada sifat DAS yang mencakup tanah, iklim, sungai, bukit dan masyarakat yang ada di dalamnya. Oleh sebab itu tidak ada resep umum yang bisa diberikan dalam memecahkan permasalahan DAS.                                          Pengelolaan wilayah DAS secara terpadu penting dilakukan mengingat banyaknya kegiatan-kegiatan yang dapat diimplementasikan, sehingga perlu dirumuskan suatu konsep penataan ruang (strategic plan) serta berbagai pilihan objek pembangunan yang serasi. Dalam konteks ini maka keterpaduan pengelolaan wilayah mengandung 3 dimensi : sektoral, bidang ilmu dan keterkaitan ekologis.                                                                                                                 Dalam mengelola sumberdaya lahan suatu DAS perlu diketahui apa yang menjadi masalah utama DAS. Masalah DAS pada dasarnya dapat dibagi menjad:
·         . Kuantitas (jumlah) air
*        Banjir dan kekeringan
*        Menurunnya tinggi muka air tanah
*        Tinggiya fluktuasi debit puncak dengan debit dasar
·         Kualitas air
*        Tingginya erosi dan sedimentasi di sungai
*        Tercemarnya erosi sedimentasi di sungai dan air tanah oleh bahan beracun dan berbahaya
*        Tercemarnya air sungai dan air danau oleh hara seperti N dan P (eutrofika)
Masalah ini perlu dipahami sebelum dilakukan tindakan pengelolaan DAS. Sebagai contoh, apabila masalah utama DAS adalah kurangnya debit air sungai untuk menggerakkan turbin pembangkit listrik tenaga air (PLTA), maka penanaman pohon secara intensif tidak akan mampu meningkatkan hasil air. Seperti telah diterangkan terdahulu, pohon-pohonan mengkonsumsi air lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman pertanian semusim dan tajuk pohon-pohonan mengintersepsi sebagian air hujan dan menguapkannya kembali ke udara sebelum mencapai permukaan tanah.                                                                                                        Apabila masalah utama suatu DAS adalah kerawanan terhadap banjir maka teknik yang dapat ditempuh adalah dengan mengusahakan agar air lebih banyak meresap ke dalam tanah di hulu dan di bagian tengah DAS. Usaha ini dapat ditempuh dengan menanam pohon dan/atau dengan tindakan konservasi sipil teknis seperti pembuatan sumur resapan, rorak dan sebagainya.                  Pengelolaan DAS padaprinsipnya ditujukan untuk mengelola sumberdaya alam (SDA) dan sumberdayalainnya dalam wilayah DAS yang ada di Provinsi Bengkulu secara berkelanjutan,dengan menyeimbangkan kepentingan ekonomi dan ekologis serta meminimalkanterjadinya degradasi lingkungan. Prinsip produktifitas dan konservasi menjadidasar dalam merencanakan, mendesain, dan mengimplementasikan programpengelolaan DAS.                                                                  Kebijakan pengelolaan DASmemerlukan dukungan institusi pemerintah baik Kabupaten maupun PemerintahProvinsi yang memadai dan sesuai dengan paradigma pengelolaan DASberkelanjutan. Ikatan institusi yang kuat akan menjamin pelaksanaan pengelolaanDAS secara baik. Selain institusi yang kuat, kebijakan pengelolaan DAS akanefektif apabila didukung oleh sistem legal. Legislasi sebagai alat hukum dapatbersifat memaksa orang atau publik untuk mentaati kebijakan yang dibuat.Lemahnya aspek institusi dan legal (hukum) menjadi faktor penghambat dalamkeberhasilan pengelolaan DAS di Indonesia secara umum dan di kabupaten danprovinsi khususnya. Sebagaimana kegiatan penutupan galian C oleh pemerintahkabupaten Bengkulu Utara sering dilanggar oleh penambang liar.                                                                                                                       Untuk mencapai pengelolaanDAS berkelanjutan diperlukan upayaupaya sebagai berikut:
a)      Meningkatkan keterpaduan dalam pengelolaan DAS
b)      Katersediaan dana dan insentif
c)      Pengembangan teknologi DAS danpenyuluhan.
d)     Peningkatan partisipasi masyarakat(pemberdayaan).
e)      Adanya kebijakan pemerintah dandukungan legislatif dalam pengelolaan DAS berkelanjutan





                                                           
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
            Berbagai kegiatan atau faktor yang dilakukan manusia maupun yang disebabkan oleh alam memiliki potensi mengancam ekosistem wilayah pesisir. Wilayah DAS sesungguhnya dilakukan untuk menjawab tantangan pembangunan yang memerlukan rumusan perencanaan terpadu dan berkelanjutan. Banyaknya limbah domestik dan tingginya tingkat sedimentasi yang masuk ke dalam wilayah pesisir, perlu dilakukan suatu bentuk pengendalian, pencemaran limbah dan pengaturan pengelolaan DAS.                                                                                             Berbagai program penelitian dan pengembangan model rakitan teknologi usaha tani konservasi dapat memberikan sumbangan besar terhadap pengelolaan DAS bagian hulu. Model yang dirancang tidak saja bertujuan meningkatkan produktivitas lahan dan pendapatan petani, tetapi juga untuk melindungi infrastruktur di bagian hilirnya. Di DAS Brantas bagian hulu, penerapan model yang tepat dapat menurunkan erosi 24– 69% di bawah batas ambang erosi, selain meningkatkan produksi.
3.2 Saran
            Dalam evaluasi teknologi usaha tani konservasi perlu digunakan analisis proyek sehingga informasi yang didapat lebih sempurna. Setiap DAS mempunyai karakteristik yang spesifik sehingga memerlukan rakitan teknologi yang spesifik lokasi.                                                                                                                                        Partisipasi petani dalam pengelolaan DAS perlu diperluas, tidak hanya dalam tahap pengembangan teknologi dan adopsi tetapi juga dalam pengelolaan DAS. Pada tahap perbaikan teknologi, formulasi kebijakan perlu ditekankan pada upaya mendorong partisipasi masyarakat. Pada tahap awal, peran pemerintah diperlukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan memberikan subsidi, dan pada tahap pengembangan untuk mendorong pihak swasta agar berinvestasi di lahan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Sabtu, 26 April 2014

DAMPAK PENCEMARAN UDARA TERHADAP HUTAN



BAB I
PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang Masalah
Pencemaran udara yang sering kita dengar dengan istilah polusi udara diartikan sebagai adanya bahan-bahan atau zat-zat asing di dalam udara yang menyebabkan perubahan susunan atau komposisi udara dari keadaan normalnya (Wardhana,1999). Pencemaran udara disebabkan berbagai macam zat kimia, baik berdampak langsung maupun tidak langsung yang semakin lama akan semakin mengganggu kehidupan manusia tumbuhan dan hewan.
Polusi udara merupakan suatu keadaan yang buruk yang terjadi di atmosfer yang mempengaruhi atau udara yang mengandung zat berbahaya yang melibatkan ketidak nyamanan atau resiko bagi kesehatan manusia dn mahluk hidup lainnya.
Pencemaran udara dewasa ini semakin menampakkan kondisi yang sangat memprihatinkan. Sumber pencemaran udara dapat berasal dari berbagai kegiatan antara lain industri, transportasi, perkantoran, dan perumahan. Berbagai kegiatan tersebut merupakan kontribusi terbesar dari pencemar udara yang dibuang ke udara bebas. Sumber pencemaran udara juga dapat disebabkan oleh berbagai kegiatan alam, seperti kebakaran hutan, gunung meletus, gas alam beracun, dll. Dampak dari pencemaran udara tersebut adalah menyebabkan penurunan kualitas udara yang berdampak negative terhadap manusia dan mahluk hidup lainnya.
     Ada 3 bentuk pencemaran udara yaitu, pencemaran udara padat,cairan, dan global. Pencemaran yang melampaui batas kewajaran akan menimbulkan dampak terhadap mahluk hidup yanh hidup di atas bumi ini. Pencemaran udara atau polusi udara dapat mengganggu pertumbuhan tanaman terutama di sekitar pabrik-pabrik tertentu. Telah diketahui selama lebih kurang seabad yang lalu. Tetapi besar dan peranannya meningkat dengan terjadinya revolusi industri, dan akan meningkat lagi seiring dengan meningkatnya jumlah populasi manusia,industrialisasi, dan urbanisasi. Oleh sebab itu, maka perlu kita fahami dampak apa saja yang dapat ditimbulkan oleh pencemaran udara khususnya terhadap tumbuhan.



1.2   Batasan Masalah
Berdasarkan hal-hal diatas, untuk lebih terarahnya pembahasan dengan penulis, maka penulis membatasi penulisan makalah ini hanya pada masalah yaitu defenisi, pengaruh udara terhadap tumbuhan, dan gejala.

1.3   Rumusan Masalah
            Berdasarkanlatar belakang masalah tersebut, maka dapat dirumuskan permasalahannya sebagai berikut:
1.3.1        Defenisi polusi udara dan hutan
1.3.2        Pengaruh udara terhadap hutan
1.3.3        Gejala dan tanda kerusakan hutan
1.3.4        Cara mengatasi kerusakan hutan

1.4   Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.4.1        Untuk mengetahui defenisi polusi udara dan hutan
1.4.2        Untuk mengetahui pengaruh polusi udara terhadap hutan
1.4.3        Untuk mengetahui gejala kerusakan hutan yang disebabkan polusi udara
1.4.4        Untuk mengetahui cara mengatasi kerussakan hutan











BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Defenisi Polusi Udara dan Hutan
            Polusi udara adalah suatu keadaan dimana udara mengandung bahan kimia, partikel, atau bahan biologis lainnya yang menyebabkan kerugian atau ketidaknyamanan pada manusia atau organize hidup lainnya, atau menyebabkan kerusakan pada lingkungan alam atau lingkungan binaan, ke atmosfer.
             Hutan adalah suatu wilayah yang memiliki banyak tumbuh-tumbuhan lebat yang berisi antara lain pohon, semak, paku-pakuan, rumput, jamur dan lain sebagainya serta menempati daerah yang cukup luas.
            Pencemaran udara pada suatu tingkat tertentu dapat merupakan campuran dari satu atau lebih bahan pencemar, baik berupa padatan, cairan gas yang masuk teradaptasi ke udara dan kemudian menyebar ke lingkungan sekitarnya. Kecepatan penyebaran tergantung pada keadaam geografi dan meteorologi setempat.
            Hampir semua polutan udara yang menyebabkan kerusakan pada tumbuhan berbentuk gas, tapi bahan yang berupa partikel ataupun debu juga dapat mempengaruhi vegetasi.Beberapa gas kontaminan seperti etilen,amoniak,klorin, dan juga uap air raksamenyebarkan pengaruh buruknya melewati daerah tertentu.Kerusakan lebih serius terjadi dilapangan secara luas yang disebabkan bahan kimia sperti ozon,sulfurdioksida,hydrogen fluoride,nitrogen dioksida,peroksiasil nitrat, dan partikel-partikel lainnya.
            Banyak telah di tulis di kampantekan dampak penggunaan pestisida dan herbisida yang bersifat meracuni bahkan mematikan tanaman. Berbagai upaya telah di lakukan oleh masing-masing negaramaupun bersama-sama dengan Negara-negara lain untuk mengurangi dampak keracunan terhadap tanaman kemudian lebih lanjut terhadap manisia. Contoh klasik adalah pestisida DDT yag akhirnya pembuatan dan pemakainannya di dunia di larang sama sekali karena sangat berbahya terhadap mahluk hidup.


            Contoh lain adalah paraquat untuk menekan gulma di lahan pertanian. Amerika sarikat pernah  menggunakan bahan kimia tersebut untuk menggugurkan daun dan merusak hutan pada perang Vietnam seluas 405.000 hektar. Bahan kimia yang di gunakan adalah 2.4D, 2.45T Asam cacodilylic dan juga picloran yang di sebarkan melalui kapal terbang. Pembakaran hutan Vietnam dengan menjatuhkan bom napoleon merupakan tindakan yang merusak lingkungan. Politan lain yang tidak kalah dampaknya adalahhasil buangan industri melalui corong pabrik maupun gas buangan kendaraan bermotor, yangakhirnya bermuara kedaratan maupun ke perairan yang memberikan dampak negative terhadap tanaman.
            Apabila tumbuhan yang dipengaruhinya terkena konsentrasi tinggi dan jangka waktu yang lama maka akan menyebabkan gejala yang dapat dilihat dan menimbulkan ciri-ciri tertentu.Akan tetapi yang lebih penting secara ekonomis dalah kenyataan bahwa walaupun tumbuhan terkena dosis yang lebih rendah dari dosis yang menyebabkan kerusakan akut, tetapi pertumbuhan dan produktivitasnya tetapa tertkan karena gangguan polutan tadi terhadap metabolisme tumbuhan.Lagipula tumbuhan yang terkena dalam jangka waktu yang lama oleh polutan udara kan melemahkan tumbuhan dan terdisposisi terhadap serangan serangga dan beberapa jenis patogen.
             Pencemaran udara sering kali tidak dapat di tangkap oleh panca indera kita, walaupun demikian potensi bahaya nya tetap ada. Jika panca indera kita dapat menangkap maka tentunya bentuk pencemar udara yang terjadi justru merupakan hal yang sangat parah. Sebagai contoh mata kita dapat melihat gas buangan hasil pembakaran berbentuk asap tebal hitam, berarti komponen partikel di dalam asap sangat banyak. Sumber pencemaran yang cukup besar berasal dari industry metalurgi petrochemical tekstil, pusat tenagalistrik yang terdiri dari: Aldehida, Amoniak, Arsen, Florin, Sulfur Dioksida, juga hasil buangan industry ini berupa padatan partikulat yang berbaur degan udara, seperti debu, jelaga yang dapat membentuk smog dan fog, sehingga cahaya matahari terhalang masuk menyinari tanaman sepenuhnya. Polusi sulfur Dioksida dapat mematikan tanaman kapas (Gossysung psilkan langium spp). Sedangkan gamdum sangat peka berbeda terhadap pencemaran ozon dan sulfur Dioksida.
            Beberapa jenis polutan udara yaitu: sulfur dioksida dan hydrogen fluoride yang dihasilkan langsung dari 1 sumber seperti kilang minyak, pembakaran BBM, tambang, pembuatan pupuk,dsb. Jenis lainnya seperti nitrat, yang di hasilkan di atmosfer. Alat pembuang gas automobile d jalanan dan jalan lintas serta alat pembuang gas mesin bahan bakar yang sangat penting.

2.2 Pengaruh Polusi Udara tehadap Hutan
            Dengan adanya sinar ultraviolet dari matahari,nitrogen dioksida tersebut bereaksi dengan oksigen udara dan membentuk ozon serta nitrit oksida.Akan ttetapi bila terdapat radikal hidrokarbon yang tidak terbakar, nitrit oksida, yang semestinya bereaksi dengan ozon, bereaksi dengan senyawa tersebut, dan karena itu konsentrasi ozon meningkat. Ozon juga dapat bereaksi dengan uap hidrokarbon tidak jenuh tertentu, tetapi hasil reaksi tersebut juga beracun bagi tumbuhan. Konsentrasi masing-masing polutan menyebabkan kerusakan terhadap tumbuhan dengan cara yang berbeda-beda terhadap jenis tumbuhan dan bahkan dengan umur atau bagian tumbuhan.
            Telah kita ketahui, bahwa pengertian hutan adalah suatu wilayah yang memiliki banyak tumbuh-tumbuhan lebat yang berisi antara lain pohon, semak, paku-pakuan, rumput, jamur dan lain sebagainya serta menempati daerah yang cukup luas. Sudah jelas sekali, bahwa pengaruh polusi udara sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan hutan, karena pertumbuhan hutan diawalai pertumbuhan tanaman. Jika di suatu hutan di tumbuhi pepohonan yang sehat dan lebat, maka hutan itu akan terlihat sempurna dari fisik nya.
            Tumbuhan membutuhkan unsure mineral untuk pertumbuhan yang normal. Contohnya saja nitrogen, fosfor,kalium,kalsium,magnesium dan sulfur di butuhkan dalam jumlah yang relative besar atau di sebut unsure mayor(makro). Selain itu juga terdapat unsure minor(mikro) yaitu besi,boron,mangan,seng tembaga. Apabila mereka terdapat pada tumbuhan dalam jumlah yang lebih kecil dari tingkat minimumyang di butuhkan untuk pertumbuhan normal maka tumbuhan menjadi sakit dn menimbulkan berbagai gejala. Jenis gejala yang di hasilkan definensi hara tertentu terutama tergantung pada tumbuhan berkembang gejala, akut atau kronis dan bisa sampai mati. Jika tumbuhan sudah mati, maka tidak ada lagi kata hutan, mungkin yang tertinggal hanya perkebunan.
            Tanaman yang tumbuh di daerah dengan tingkat pencemaran udara tinggi dapat terganggu pertumbuhannya dan rawan penyakit, antara lain klorosis, nekrosis, dan bintik hitam. Partikulat yang terdeposisi di permukaan tanaman dapat menghambat proses fotosintesis.

2.2.1 Hujan Asam
            Hujan asam adalah hujan yang bersifat asam yang memiliki pH kurang dari 5,7. Hujan asam secara alamai memang bersifat asam, namum kisaran pH diatas 5,7.kesamaan hujan biasaanya di sebabkan oleh karbon dioksida di udara yang bereaksi dengan uap air menjadi asam lemah bikarbonat. Jenis asam dalam hujan ini sangat bermanfaat karena dapat melarutkan mineral dalam tanah yang di butuhkan oleh tumbuhan dan binatang. Namun jika ksamaan air hujan menjadisangat rendah yaitu di bawah pH 5,7 maka akan menimbulkan masalah terhadap lingkungan. Karena kesamaan hujan yang seperti ini dapat bersifat korosif dan dapat menyebabkan berbagai jenis gangguan kesehatan pada mhluk hidup, baik itu hewan, tumbuhan maupun manusia.
            PH biasa air hujan adalah 5,6 karena adanya CO2 di atmosfer. Pencemar udara seperti SO2 dan NO2 bereaksi dengan air hujan membentuk asam dan menurunkan pH air hujan. Dampak dari hujan asam ini antara lain:
·         Mempengaruhi kualitas air permukaan
·         Merusak tanman
·         Melarutkan logam-logam beratyang terdapat dalam tanah sehingga memengaruhi kualitas air tanah air permukaan
·         Bersifat korosif sehingga merusak material dan bangunan.
Akibat polusi NH4, HSO4 yang turun bersama hujan menyebabkan pH air menurun, juga endapannya dapat bertahandi tanah oleh hujan akan dilarutkan menyebabkan pH menurun. Penyebab utamanya adalah terbentuknya gas SO dan NO oleh ulah manusia dari bahan bakar bakar minyak. HNO3 sangat asam dan larut dengan baik sekali. Selain itu juga merupakan asam keras dan reaktif terhadap benda-benda lain yang menyebabkan korosif.

2.2.2 Efek rumah kaca  
            Efek rumah kaca disebabkan oleh keberadaan CO2, CFC, metana, ozon, dan N2O di lapisan troposfer yang menyerap radiasi panas matahari yang dipantulkan oleh permukaan bumi. Akibatnya panas terperangkap dalam lapisan troposfer dan menimbulkan fenomena pemanasan global.


Dampak dari pemanasan global adalah:
·         Pencairan es di kutub
·         Perubahan iklim regional dan global
·         Perubahan siklus flora dan fauna
            Efek rumah kaca dapat digunakan untuk menunjuk dua hal berbeda: efek rumah kaca alami yang terjadi secara alami di bumi, dan efek rumah kaca ditingkatkan yang terjadi akibat aktivitas manusia (lihat juga pemanasan global). Yang belakang diterima oleh semua; yang pertama diterima kebanyakan oleh ilmuwan, meskipun ada beberapa perbedaan pendapat.
            Efek rumah kaca disebabkan karena naiknya konsentrasi gas karbon dioksida (CO2) dan gas-gas lainnya di atmosfer. Kenaikan konsentrasi gas CO2 ini disebabkan oleh kenaikan pembakaran bahan bakar minyak, batu bara dan bahan bakar organik lainnya yang melampaui kemampuan tumbuhan-tumbuhan dan laut untuk menyerapnya.
Energi yang masuk ke Bumi:
           25% dipantulkan oleh awan atau partikel lain di atmosfer
           25% diserap awan
           45% diserap permukaan bumi
           5% dipantulkan kembali oleh permukaan bumi
            Energi yang diserap dipantulkan kembali dalam bentuk radiasi inframerah oleh awan dan permukaan bumi. Namun sebagian besar inframerah yang dipancarkan bumi tertahan oleh awan dan gas CO2 dan gas lainnya, untuk dikembalikan ke permukaan bumi. Dalam keadaan normal, efek rumah kaca diperlukan, dengan adanya efek rumah kaca perbedaan suhu antara siang dan malam di bumi tidak terlalu jauh berbeda.
            Selain gas CO2, yang dapat menimbulkan efek rumah kaca adalah belerang dioksida, nitrogen monoksida (NO) dan nitrogen dioksida (NO2) serta beberapa senyawa organik seperti gas metana dan klorofluorokarbon (CFC). Gas-gas tersebut memegang peranan penting dalam meningkatkan efek rumah kaca.
            Meningkatnya suhu permukaan bumi akan mengakibatkan adanya perubahan iklim yang sangat ekstrim di bumi. Hal ini dapat mengakibatkan terganggunya hutan dan ekosistem lainnya, sehingga mengurangi kemampuannya untuk menyerap karbon dioksida di atmosfer. Pemanasan global mengakibatkan mencairnya gunung-gunung es di daerah kutub yang dapat menimbulkan naiknya permukaan air laut. Efek rumah kaca juga akan mengakibatkan meningkatnya suhu air laut sehingga air laut mengembang dan terjadi kenaikan permukaan laut yang mengakibatkan negara kepulauan akan mendapatkan pengaruh yang sangat besar.

2.2.3 Penipisan lapisan ozon
            Ozon sangat penting dalam mencegah radiasi ultra-violet yang masuk ke bumi. Hal ini penting, artinya, sebab jika ozon tidak lagi berfungsi sebagai pencegah masuknya radiasi ultra-violet yang masuk ke bumi, maka akan menyebabkan kerusakan-kerusakan pada mahluk hidup termasuk tumbuhan yang tidak dapat beradaptasi dengan sinar ultra-violet tersebut. Dilaporkan bhawa sinar matahari dapat menyebabkan kanker pada kulit manusia.
            Lapisan ozon yang berada di stratosfer (ketinggian 20-35 km) merupakan pelindung alami bumi yang berfungsi memfilter radiasi ultraviolet B dari matahari. Pembentukan dan penguraian molekul-molekul ozon (O3) terjadi secara alami di stratosfer. Emisi CFC yang mencapai stratosfer dan bersifat sangat stabil menyebabkan laju penguraian molekul-molekul ozon lebih cepat dari pembentukannya, sehingga terbentuk lubang-lubang pada lapisan ozon.
            Diyakini bahwa penyebab menipisnya lapisan ozon ini adalah gas CFC baik CFC-11 (CFCL) dan CFC-12 (CFCL). Gas ini banyak dipergunakan dalam industry untuk pendinginan yang lebih di kenal dengan istilah Freon

2.3 Gejala dan Tanda
          Banyak hal yang menyebabkan kerusakan hutan, mulai dari pathogen, serangga atau hama, factor lingkungan abiotik, parasit kebakaran satwa liar, penebangan liar dan polusi udara. Banyak dampak negative yang di sebabkan oleh kerusakan hutan, contohnya pabrik atau industry tekstil.
          Ilmu Penyakit Hutan (Forest Pathology) ialah ilmu yang mempelajari tentang faktor biotik dan abiotik yang dapat menyebabkan sakit pada tanaman/tumbuhan hutan dan hasil hutan sehingga timbul kerugian. Penyakit adalah suatu proses atau akibat dari suatu penyebab penyakit (patogen). Jadi pernyataan “diserang penyakit” adalah tidak benar, seharusnya “diserang patogen, diserang jamur, diserang hama” dsb.
            Penyakit adalah salah satu penyebab kerusakan hutan, di sini penyakit menyereang pohon-pohon. Jika pohon-pohon terserang penyakit maka pohon akan mati dan hutan pun tidak ada lagi. Polusi udara bisa menimbulkan penyakit, contoh nya. Jika polusi udara terlalu buruk atau banyak mengandumh zat kimia maka itu kan mempengaruhi pertumbuhan pohon, jika pohon itu terluka dan terkena polusi udara yang buruk maka penyakit patogen akan mudah menyerang pohon tersebut.

2.3.1 Gejala
            Manusia tidak menyadari bahwa kerusakan hutan yang sangat kecil bisa mengakibatkan dampak yang begitu besar. Di dalam hutan terdapat banyak pepohonan dan banyak jenis pepohonan yang ada di dalam hutan, jika pohon itu mati atau terkena penyakit maka hutan akan terlihat cacat atau tidak sempurna. Ada yang di namakan hutan virgin, maksud nya, apabila ada hutan yang memiliki pohon yang sudah tumbang atau patah, patah nya di akibtkan oleh manusia atau di tebang oleh manusia, maka hutan itu di kataakan hutan tidak virgin. Gejala kerusakan hutan antara lain:
·         Pertumbuhan pepohonan tidak normal
·         Daun mengunin
·         Batangnya membusuk
·         Banyak ditumbuhi jamur
2.3.2 Tanda
            Tanda-tanda kerusakan hutan sangat lah banyak, dari kerusakn terkecil sampai terbesar. Pemerintah Indonesia sangat lambat dalam bertindak, mereka tidak menyadari bahwa dari kerusakan yang kecil sangat berdampak besar bagi hutan. Tanda-tanda kerusakan hutan lebih cendrumg ke penyakit tumbuhan. Penyebab penyakit hutan (patogen) terdiri atas: faktor biotik mikroorganisme (virus, bakteri, jamur, mikoplasma, spiroplasma, riketsia, nematoda) dan makroorganisme (kutu, bekicot, cacing, larva, serangga, kumbang, satwa mamalia, manusia) serta faktor abiotik (cuaca, tanah, api, bahan kimia). Gejala serangan (sympotom): perubahan proses fisiologis dan sifat marfologi dari normal menjaditidak normal pada tumbuhan. Tanda serangan (sign): semoa factor penyebab penyakit, baik factor biotic maupun abiotik. Tanda-tanda kerusakan hutan antaralain:
·         Kurang nya pepohonan
·         Hilangnya satwa
2.3 Cara mengatasi Kerusakan Hutan
              Di sarankan, agar di Negara kita Indonesia dinas kehutanan di perbanyak. Agar masyarakat mengetahui betapa pentingnya hutan bagi kehidupan kita. Bagi masyarakat yang tidak mengerti akan penting nya hutan, mereka akan bertindak semena-mena terhadap hutan Indonesia. Mereka tidak tau dampak buruk yang di timbulkan bila hutan kita tidak ada, banyak bencana yang terjadi jika Indonesia tidak mempunyai hutan, contohnya longsor, banjir, gempa bumi. Adapun cara untuk mengatasi kerusakan hutan yang di sebabkan oleh polusi udara antara lain:
·         Mengembangkan teknologi yang ramah lingkungan
·         Mempelajari upaya perlindungan hutan dari berbagai penyakit
·         Mengenali npenyebab kerusakan primer
·         Menganalisa dan mengambil keputusan secara menyeluruh dan tidak hanya terbatas pada penyebab kerusakan paling serius saja











BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
          Hutan yang berfungsi sebagai paru-paru Indonesia, yang menjaga tersedianya oksigen di bumi, perlahan-lahan mulai lenyap. Hutan-hutan tropis yang tadinya banyak dijumpai di Indonesia, kini perlahan-lahan berubah menjadi ladang perkebunan sawit, coklat dan karet.
            Polusi udara dapat berbentuk gas, cari, dan padatan. Reaksi antara gas dan cairan maupun larutan dapat dibawa angin. Kemudian terjadi presipitas yang breakibat terjadinya hujan, embun, fog, smog yang kesemuanya dapat merusak tanaman maupunlingkungan.
           Pemanasan bumi di sebabkan oleh efek gas rumah kaca yang dapat meningkatkan suhu bumi sehingg dapat mencairkan es di antartika dan dampaknya akan dapat meningkatkan air laut, jika ini terjadi maka banyak Negara-negara kepulauan menderita karena permukaan laut menaik sehingga daratannya semakin mengecil yang berarti luasa lahan pertanian yang dekat dengan pantai akan tenggelam. Intrusi air laut akan merusak sehingga lahan-lahan pertanian maupun perkantoran air tanah nya semakin asin.
3.2 Saran
        Sebaiknya hutan di indonesia selalu dipantau oleh pemerintah karena banyak masyarakat yang tidak beranggungjawab atas penebangan lahan , pembakaran lahan dan sbg. Ketika hutan mulai habis banyak hewan yang berasal dari hutan tersebut turun ke pemukiman masyarakat dan menimbulnya banyak masalah. Akhir akhir ini banyak terjadi pembakan hutan di indonesia, contohnya saja di pekanbaru provinsi Riau. Badan BMKG menemukan 450 lebih titik api yang ada di pekanbaru. Akibatnya banyak kabut asap yang melanda kota pekanbaru. Dalam hal ini pemerintah harus serius menanggapinya karena kita tau hutan itu sendiri sebagai paru paru dunia. Pemerintah provinsi jangan terlalu mudah melepaskan hutan kemasyarakat untuk dijadikan lahan seperti sawit, karet dan sbg. Pemerintah juga harus membuat peraturan yang ketat ataupun yang membuat para pelaku pembakaran itu jerah. Jagalah hutan kita untuk anak cucu kita kedepannya, karna hutan paru paru dunia
          
DAFTAR PUSTAKA
Septiyanto, Ahmad. Cara mengatasi pencemaran udara (2013 oktober 10). Diperoleh 3 April 2014
Denny. Penyakit hutan (2011 desember 6 ). Diperoleh 3 april 2014 http://srigalax.blogspot.com/2009/12/penyakit-hutan.html

Wald conservation news. Bentuk dan penyebab kerusakan hutan (2008 4 oktober). Diperoleh 3 april 2014 http://waldconservationnews.blogspot.com/2008/10/bentuk-dan-penyebab-kerusakan-hutan.html

Hutan-rahmawaty2.pdf